arch ego
hi, it’s been a while..
seems i got more suffer a month lately.
hari ini otak saya yang lamban dipaksa untuk berfikir lebih dalam dari biasanya. ini adalah hari kesekian sejak adanya pemberhentian sepihak seorang pegawai di kantor saya, dan tinggal menunggu waktu sampai kontrak sahabat saya habis dan dia bisa kembali terbang di dunia nyata. (uuh irinyaa…) seorang senior saya yg baik juga menasihati saya supaya tak tinggal diam menghadapi kenyataan yang menunggu di depan. bahwa saya seharusnya berkembang di tempat lain. saat itu saya hanya bisa tertawa dan kembali meneguk jus melon saya.
tapi kemudian saya ingat bahwa keputusan saya untuk bekerja di tempat saya bekerja sekarang adalah bukan 100% kemauan saya. ketika memutuskan pergi ke cikarang, saat itu saya tak tau apa yang benar2 menunggu saya, yang saya tau hanyalah saya harus pergi demi menyelamatkan nama baik sahabat saya, dan untuk menghindar dari depresi kekosongan yang menghimpit saya di akhir mei. kontrak saya yang lama selesai dan saya tak mau hanya mengerjakan pekerjaan freelance saja, bahkan saya jadi tak cukup peduli dengan pekerjaan macam apa yang saya terima. jadi saya mengemas pakaian dan pergi.
ketika sampai di cikarang, keadaan ternyata tidak lebih baik bagi saya. pekerjaan benar-benar menguras fisik mental dan emosi saya, tak ada lagi yang tersisa. yang saya ingat hanya punya beberapa jam untuk tidur setiap harinya dan sisanya saya habiskan untuk kerja, begitu seterusnya. tak ada lagi yang bisa saya tulis di buku harian dan blog, tak ada lagi yang bisa saya ceritakan pada ibu selain kelelahan saya. bahkan saya menjadi cukup lelah untuk sekedar marah dengan keadaan yang ada. ketika saya ingat bahwa alasan saya pergi ke jakarta adalah untuk melarikan diri dari kekosongan dan malah menemukan diri saya dilahap habis oleh kehampaan.
lalu saya kembali ke bandung di bulan juli, saya berada di pekerjaan yang sama hanya dengan tempo yang lebih lambat sehingga memungkinkan saya bisa bernafas dan berjalan-jalan di akhir pekan. tapi tetap ini bukanlah pekerjaan yang saya harapakan—bila saya bicara tentang pekerjaan.
setelah saya menginjakkan kaki di tempat ini, saya tak pernah lagi berfikir keras untuk menciptakan sesuatu, mendedikasikan sesuatu. belajar menguasai suatu bidang desain dan perhitungan, tak pernah lagi merasa bangga dengan pekerjaan saya yang direalisasikan, dan merasa sedih dengan klien yang seleranya dangkal..yang saya tau sekarang, saya hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan saya secepat mungkin dan segera pulang. (meskipun setelah pulang saya tak tau juga apa yang harus saya lakukan sebetulnya)
hari ini ternyata untuk ketiga kalinya saya menempatkan diri saya pada posisi yang bisa membuat saya dipecat kapan saja, tapi kemudian bukan itu yang mengganggu saya akhir-akhir ini. saya sudah menulis surat pengunduran diri sejak lama bahkan semasa saya masih di minggu-minggu sulit di cikarang. saya cukup yakin hanya tinggal menunggu waktu sampai surat itu terpampang manis di meja direktur tepat sebelum orang HRD selesai mengetik surat pemecatan saya.
dan kemudian saya bisa lepas dari rutinitas melenakan yang membuat saya seakan-akan berada di area nyaman. saya bisa menjelajah bagian dunia lain dan membuka area pikiran saya yang mengerak karena lama tak diasah.
saya tau ini adalah sebuah bentuk ketidak-tau-dirian dan ketidak-bersyukur-an bagi mata orang lain diluar sana. sahabat saya yang lain bisa bertahan di industri ini sampai bisa menjadi project manager di usia 23. dan saya merasa sangat bangga dengannya. tapi saya tak bisa berada di jalur yang sama. bukankah ketidakbersyukuran itu adalah menyianyiakan bakat dan minat di masa muda dan memaksa diri bekerja di area aman dan menyianyian hidup yang hanya sekali?
saya tidak setiap hari berumur 23, saya hanya ingin menggunakan usia saya sebaikbaiknya. saya hanya ingin berlari sampai terbang. tidak sampai terbang pun tak apa-apa, karena sebetulnya saya hanya tak ingin menjalani hidup ini dengan “berjalan” dan “tersendat”.
Bandung, September 12th 2012